Diantara AI dan Bahasa Ibu, Langkah Made Anang Menjaga Mabasa Bali
18 Februari 2026 | Diantara AI dan Bahasa Ibu, Langkah Made Anang Menjaga Mabasa Bali
Singaraja, Humas - Nama Made Anang Dwipayana disebut sebagai Juara II dalam Lomba Menulis Opini Mabasa Bali tingkat Provinsi Bali. Mahasiswa Semester VI Prodi Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali, IAHN Mpu Kuturan (IMK) itu sempat terdiam sebelum akhirnya tersenyum. Ia tahu tulisannya masih bisa dikembangkan, tetapi pencapaian itu menjadi penanda penting dalam perjalanannya belajar Bahasa Ibu yakni Bahasa Bali.
Lomba tersebut digelar Pemerintah Provinsi Bali dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali dan diikuti peserta se Privinsi Bali. Bagi Anang, mengikuti kompetisi itu bukan sekadar mengejar prestasi.
“Saya ingin mengasah kemampuan menulis opini berbahasa Bali sekaligus melatih mental berbicara di depan umum menggunakan bahasa Bali yang baik,” ujarnya.
Berbeda dari tema kebudayaan yang lazim diangkat, Anang memilih topik tentang kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Ia melihat perubahan zaman sebagai tantangan sekaligus peluang bagi pelestarian bahasa Bali.
“Di zaman sekarang, anak muda Bali sulit menemukan atau belajar bahasa Bali secara mandiri. Dengan adanya AI, generasi muda bisa belajar menerjemahkan bahasa dengan mudah dan kapan saja,” katanya.
Menurut dia, teknologi tidak selalu menjadi ancaman bagi bahasa daerah. Justru, jika dimanfaatkan dengan tepat, teknologi dapat menjadi jembatan bagi generasi muda untuk lebih dekat dengan bahasa ibunya. Meski demikian, proses menyusun opini berbahasa Bali tidak mudah. Anang mengakui tantangan terbesar terletak pada struktur kebahasaaan dan ketepatan penggunaan kaidah.
“Tantangannya terkait dengan struktur bahasa Bali dan pengembangan opini yang harus disesuaikan dengan aturan kebahasaan. Banyak hal yang perlu diperhatikan agar hasilnya tetap baik,” ujarnya.
Ia menyadari, menulis dalam bahasa Bali bukan hanya soal menuangkan gagasan, tetapi juga menjaga tata bahasa dan rasa bahasa. Baginya, kebiasaan menulis dan berbicara dalam bahasa Bali menjadi bagian penting dari upaya pelestarian.
“Sebagai generasi muda Bali, kita harus terbiasa menulis dan berbicara menggunakan bahasa Bali yang baik. Dengan begitu bahasa Bali akan terus dilestarikan kegenerasi berikutnya,” katanya.
Saat diumumkan sebagai Juara II, Anang mengaku terharu sekaligus bahagia. Ia merasa karyanya masih perlu pengembangan, namun capaian tersebut memberinya keyakinan untuk terus belajar.
“Saya bangga dengan diri saya karena bisa mencapai keberhasilan ini, meskipun saya tahu tulisan saya masih harus dikembangkan,” ujarnya.
Kemenangan itu tidak ia anggap sebagai akhir. Ia bertekad terus mengasah kemampuan mabasa Bali, baik dalam tulisan maupun percakapan sehari-hari. Menurutnya, peran mahasiswa sangat penting dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah, dimulai dari hal sederhana.
“Dari hal kecil seperti menyapa dosen dan teman, kita bisa membiasakan menggunakan bahasa Bali. Jika itu dilakukan konsisten, kampus IMK bisa menjadi contoh konkret pelestarian bahasa Bali,” katanya.
Ia juga berharap lembaga dapat terus mendukung pengembangan bahasa Bali, antara lain dengan memperbanyak buku bacaan berbahasa Bali serta mendukung kegiatan yang berkaitan dengan literasi dan penguatan bahasa daerah. (hms)
