IMK Soroti Krisis Identitas Bahasa Daerah di Kalangan Generasi Muda
10 Februari 2026 | IMK Soroti Krisis Identitas Bahasa Daerah di Kalangan Generasi Muda
Singaraja, Humas — Institut Mpu Kuturan menyoroti menguatnya gejala krisis identitas bahasa daerah di kalangan generasi muda, seiring menurunnya penggunaan bahasa dan sastra Bali dalam kehidupan sehari-hari. Isu tersebut mengemuka dalam pembukaan rangkaian Bulan Bahasa Bali yang digelar di Aula Gedung Rektorat Institut Mpu Kuturan, Senin, 10 Februari 2026.
Wakil Rektor Institut Mpu Kuturan, Dr. Nyoman Miarta Putra dalam sambutannya, mengatakan bahasa dan sastra Bali bukan sekadar sarana komunikasi, melainkan identitas yang memuat nilai-nilai kehidupan dan pesan moral para leluhur. Menurut dia, ketika bahasa daerah ditinggalkan, masyarakat berisiko kehilangan jati dirinya.
“Bahasa, budaya, dan sastra merupakan identitas kita. Kalau identitas itu hilang, maka kita tidak akan dikenal,” ujarnya.
Miarta Putra menilai mahasiswa memiliki posisi strategis dalam merespons kondisi tersebut. Di tengah arus globalisasi dan budaya populer, generasi muda dituntut tidak hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga keberlanjutan bahasa dan budaya lokal.
“Sebagai orang Bali, khususnya mahasiswa dan anak-anak muda, kita berkewajiban untuk melestarikan nilai kehidupan dan lingkungan yang sudah diwariskan oleh para pendahulu,” kata dia.
Upaya tersebut, menurut Miarta Putra, tidak cukup berhenti pada seremoni kebudayaan, tetapi perlu diwujudkan dalam praktik berbahasa, penguatan literasi sastra, dan pemanfaatan bahasa Bali di ruang-ruang akademik maupun sosial.
Hal senada diungkapkan Kaprodi Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali Komang Puteri Yadnya Diari. Menurutnya, penggunaan bahasa Bali di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa, dinilai semakin terpinggirkan. Fenomena tersebut tidak lagi sebatas persepsi, melainkan dapat diamati secara sosial dan kultural dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pendidikan dan pergaulan.
Bagi Puteri, bahasa Bali tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai penanda identitas, sistem nilai, serta cara pandang masyarakat Bali terhadap dunia. Ketika bahasa Bali tidak lagi digunakan secara aktif, yang hilang bukan sekadar kosakata, melainkan juga pola pikir, etika, dan struktur kebudayaan yang melekat di dalamnya.
“Dalam konteks Bali, bahasa Bali berhubungan langsung dengan tata krama, sistem sosial, ritual keagamaan, hingga relasi sosial. Ketika generasi muda semakin jarang menggunakannya, secara tidak langsung terjadi pelemahan identitas kultural sebagai masyarakat Bali yang berakar pada tradisi,” ujarnya.
Menurut Komang Puteri Diari, gejala krisis identitas bahasa Bali di kalangan mahasiswa tampak jelas dari perubahan pola komunikasi. Banyak mahasiswa lebih nyaman menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa campuran dengan istilah asing, meskipun berada di lingkungan yang secara kultural berbahasa Bali. Kemampuan menggunakan ragam bahasa Bali sesuai konteks sosial, termasuk anggah ungguh basa, juga dinilai semakin menurun.
“Tidak sedikit mahasiswa yang memahami bahasa Bali secara pasif, tetapi mengalami kesulitan ketika harus menggunakannya secara aktif, terutama dalam situasi formal, keagamaan, atau adat. Bahasa Bali sering kali hanya dipakai saat ritual atau berinteraksi dengan orang tua, bukan sebagai bahasa pergaulan sehari-hari,” katanya.
Ia menilai, menurunnya penggunaan bahasa Bali dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Dominasi bahasa Indonesia sebagai bahasa pendidikan dan profesional membuat bahasa daerah kehilangan ruang strategis. Di sisi lain, arus globalisasi dan media digital mendorong generasi muda lebih akrab dengan bahasa yang dianggap modern dan memiliki nilai ekonomi. Lingkungan keluarga juga turut berperan, ketika bahasa Bali tidak lagi dibiasakan sebagai bahasa pertama di rumah.
Untuk merespons kondisi tersebut, Institut Mpu Kuturan, menurut Puteri Diari, mulai mengambil langkah-langkah konkret dan berkelanjutan. Bahasa Bali didorong menjadi bahasa hidup di lingkungan kampus, tidak hanya sebagai mata kuliah, tetapi juga digunakan dalam kegiatan seremonial, diskusi budaya, dan aktivitas organisasi mahasiswa.
Selain itu, mahasiswa didorong memproduksi karya kreatif berbahasa Bali, seperti konten digital, podcast, teater, sastra, hingga media sosial. Bahasa Bali juga diintegrasikan dengan isu-isu kontemporer, seperti ekoteologi, pariwisata berkelanjutan, teknologi, dan kewirausahaan, agar tetap relevan dengan kehidupan generasi muda.
“Dengan pendekatan yang kontekstual dan kreatif, bahasa Bali tidak seharusnya dipandang sebagai beban tradisi, tetapi sebagai sumber identitas, kebanggaan, dan inovasi kultural,” kata Puteri. (hms)
