Lomba Memasak Makanan Khas Bali Meriahkan Dies Natalis I IMK

6 Mei 2026 | Lomba Memasak Makanan Khas Bali Meriahkan Dies Natalis I IMK



Singaraja, Humas — IAHN Mpu Kuturan (IMK) menggelar Lomba Memasak Makanan Khas Bali sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis I, Rabu 6 Mei 2026, di Kampus Jalan Pulau Menjangan, Banyuning. Kegiatan ini diikuti enam tim peserta yang berasal dari unsur tenaga kependidikan, fakultas, dan pascasarjana.

Berbagai sajian tradisional Bali seperti lawar, sate lilit, dan jukut ares dan sajian khas bali lainnya dihadirkan para peserta dalam kompetisi tersebut. Selain menjadi ajang kreativitas, kegiatan ini juga bertujuan melestarikan sekaligus mengenalkan kembali warisan kuliner tradisional Bali kepada civitas akademika.

Ketua Panitia Dies Natalis I, Ida Bagus Gede Paramitha, mengatakan kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga mendorong peserta untuk memahami pengolahan makanan tradisional Bali.

“Kegiatan ini bertujuan melestarikan dan mengenalkan kembali warisan kuliner tradisional Bali. Peserta juga didorong berkreasi dalam mengolah dan menyajikan makanan tradisional dengan sentuhan modern tanpa menghilangkan cita rasa aslinya,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Gus De ini menyebut jika kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempererat kebersamaan di lingkungan kampus dalam momentum Dies Natalis.

“Yang paling penting, kegiatan ini meningkatkan rasa kebersamaan karena seluruh peserta berkumpul dan menikmati sajian yang dibuat bersama,” katanya.

Penilaian lomba dipimpin Koordinator Juri, Gede Putra Yadnya, seorang chef salah satu hotel di kawasan wisata Lovina sekaligus mahasiswa Program Studi Pariwisata Budaya dan Keagamaan IMK.

Ia menjelaskan, penilaian dilakukan berdasarkan rasa, penyajian makanan, serta kekompakan tim. Selain itu, penggunaan komposisi bumbu juga menjadi perhatian utama karena makanan tradisional Bali dikenal kaya rempah.

“Kami melihat komposisi bumbu dan penyajiannya. Dalam dunia kuliner, tampilan makanan juga memengaruhi penilaian,” ujarnya.

Dalam lomba tersebut, peserta juga ditantang menyajikan masakan tanpa menggunakan bahan penyedap. Hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi peserta untuk memaksimalkan cita rasa alami dari bumbu tradisional Bali.

“Tanpa bahan penyedap, peserta harus mampu menyiasati racikan bumbu agar sajian tetap memiliki cita rasa yang kuat dan menarik,” kata Putra Yadnya. (hms)