Menjangan Muda IMK Lolos Finalis NESCO 2
Angkat Isu Pariwisata Bali dari Perspektif Mahasiswa
28 Februari 2026 | Menjangan Muda IMK Lolos Finalis NESCO 2 Angkat Isu Pariwisata Bali dari Perspektif Mahasiswa
Singaraja, Humas – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa IAHN Mpu Kuturan (IMK). Tim Menjangan Muda berhasil lolos sebagai finalis dalam ajang National Essay Competition (NESCO) 2, sebuah kompetisi esai tingkat nasional yang diikuti mahasiswa dari berbagi perguruan tinggi di Indonesia.
Tim Menjangan Muda terduri dari Made Krisna Mas Dermawan dari Program Studi Pariwisata Budaya dan Keagamaan, Komang Sasta Tri Lestari dari Program Studi Manajemen Ekonomi, serta Kadek Alpian Kusuma Dewi dari Program Studi Manajemen Ekonomi. Melalui gagasan ilmiah yang mereka susun bersama, tim ini mengangkat isu aktual mengenai dinamika pelayanan pariwisata di Bali.
Menurut Made Krisna Mas Dermawan, keikutsertaan mereka dalam kompetisi bermula dari dorongan rekan mahasiswa yang kemudian ditindaklanjuti melalui diskusi bersama tim.
“Kami awalnya mendapat rekomendasi dari rekan untuk mengikuti lomba ini. Setelah berdiskusi, kami melihat kondisi pariwisata di Bali saat ini menarik untuk dibahas karena banyak sekali pendapat pro dan kontra yang muncul di media sosial,” ujarnya.
Dalam esai tersebut, tim mengangkat fenomena standar ganda pelayanan antara wisatawan domestik dan mancanegara yang dinilai masih menjadi persoalan di sektor pariwisata. Isu tersebut dipilih karena dianggap dekat dengan realitas masyarakat sekaligus relevan dengan bidang keilmuan yang mereka tekuni.
Komang Sasta Tri Lestari menjelaskan bahwa topik tesebut muncul dari pengamatan terhadap berbagai keluhan wisatawan domestik yang sering muncul di ruang publik.
“Kami melihat banyak keluhan wisatawan domestik mengenai perbedaan pelayanan yng mereka terima dibandingkan wisatawan asing. Hal ini sering dibicarakan, tetapi belum banyak dibahas secara ilmiah,” jelasnya.
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim menawarkan beberapa solusi, diantaranya peningkatan kualitas sumber daya manusia pariwisata, penyusunan standar pelayanan yang lebih jelas, perbaikan sistem oprasional pelayanan wisata, serta penguatan pengawasan dan evaluasi.
Tri Lestari mengakui bahwa proses penyusunan esai menjadi pengalaman belajar yang berharga bagi tim.
“Kami menyadari isu ini cukup sensitif karena menyangkut banyak pihak, tetapi kami melihat persoalan ini perlu ditinjau kembali agar pariwisata Bali tidak tercemar kedepannya,” katanya.
Sementara itu, Kadek Alpian Kusuma Dewi menyebut jika dalam proses penyusunan esai, tim secara intensif melakukan diskusi dan revisi bersama dosen pembimbing. Pendampingan tersebut membantu mahasiwa dalam memperkuat argumentasi serta menyusun gagasan secara lebih sistematis.
“Kami melalui banyak tahap diskusi dan revisi. Pendampingan dari dosen pembimbing sangat membantu terutama dalam memperkuat argumentasi dan referensi ilmiah,” ujarnya.
Dosen pembimbing, Putu Agus Gandi Griastana, mengapresiasi semangat mahasiswa dalam mengangkat isu yang relevan dengan kondisi pariwisata Bali saat ini.
“Isu perbedaan pelayanan antara wisatawan domestik dan mancanegara sering dibicarakan secara informal, tetapi jarang dianalisis secara ilmiah. Mahasiswa berhasil mengangkat isu ini dengan pendekatan akademik yang cikup baik,” ujarnya.
Menurutnya, kompetisi seperti NESCO menjadi ruang pembelajaran yang penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menulis ilmiah.
“Kami melakukan pendampingan secara intensif, terutama pada tahap penajaman rumusan masalah dan penguatan referensi agar argumentasi yang dibangun lebih kuat dan teraarah,” jelasnya.
Bagi Tim Menjangan Muda, keberhasilan menjadi finalis merupakan motivasi untuk terus berkembang sekaligus membawa nama baik kampus di tingkat nssional.
“Nama finalis ini merupakan bahan bakar bagi kami untuk terus berkembang dan memberikan manfaat bagi instansi. Kami berharap bisa mendapatkan medali emas agar bisa mengharumkan nama kampus,” ujar Gandi. (hms)
